Kumpulan Cerita Seks, Cerita Dewasa, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Pemerkosaan, Cerita Bokep ABG, Cerita Panas Hot, Cerita Lesby, Cerita Gay, Cerita Selingkuh Terbaru.
Download Now Download Foto dan Video Bokep XXX Terbaru 2016 !!!

Cerita Pemerkosaan Ngentot Erika Anak Bos

Cerita Seks Terbaru – kembali critasex.com menghadirkan cerita dan kisah hot menarik untuk di baca khusus dewasa plus Cerita Pemerkosaan Ngentot Erika Anak Bos. selamat membaca.

Dodi, seorang pribumi bertubuh kekar dengan wajah ramahnya menyambut seorang gadis cantik bermata sipit yang keluar dari pintu gerbang sekolah. dengan ramah Mang Dodi membukakan pintu mobil mempersilahkan gadis cantik itu duduk di dalam. Dengan hati-hati ia menutup pintu kembali, setelah itu ia duduk di belakang kemudi.

“bagaimana sekolahnya non ??” Mang Dodi bertanya sambil menyalakan mobil.
“uhh sebel deh mang Dod, cape, tadi aku..dll dstt dsttt”

Cerita Sex Ngentot Anak Bos – Erika curhat kepada sopir kepercayaannya yang menengok kebelakang.mendengarkan curhat dari Erika. Memang sudah lama mang Dodi bekerja di keluarga Erika, semenjak Erika masih duduk di kelas TK kecil, mang Dodi sudah mengantar jemputnya dari rumah ke sekolah dan dari sekolah ke rumah. Mata Mang Dodi melirik melihat paha mulus yang tersembul, mau tak mau sebagai laki-laki normal mang Dodi menelan ludah yang membanjir melihat kemulusan paha putih yang mengkilap.

Cerita Pemerkosaan Ngentot Erika Anak Bos

Cerita Pemerkosaan Ngentot Erika Anak Bos

“pokoknya hari ini aku sebeeeeelll banget mang Dod , bete deh..” Erika mengakhiri keluhannya.
“ya sudah.. betenya jangan lama-lama non, nggak baik…”

Mang Dodi menghadap ke depan dan mulai menginjak gas. Dengan mobil pajero sport mang Dodi mengantar Erika pulang ke rumah dengan selamat. Seorang jongos yang berjaga membukakan pintu besi yang berdiri dengan kokoh dan yang seorang lagi sibuk berkiri kiri dan berkanan-kanan memandu mobil mewah itu. Erika turun dari mobil kemudian mengangguk ramah kepada dua orang jongos yang menyapa, Mang Dodi mengekori dari belakang mengikuti Erika masuk ke dalam rumah mewah yang sepi dari yang namanya “keluarga” . Mata Mang Dodi menikmati goyangan pinggul Erika. Masih terbayang saat Erika masih TK dulu, ia sering duduk di pangkuannya dan Erika tertawa saat mang Dodi menggelitiki dan mencubit hidungnya yang mancung. Masih teringat dengan jelas saat Erika keluar telanjang buat dari dalam kamar mandi, Erika kecil berlari kepangkuannya dan menangis sambil berkali-kali menunjukkan bebek karetnya

“mang Dod , bek mati.. hu hu hu” , mata mang Dodi melotot bukan ke arah bebek karet yang menciut namun melotot ke arah selangkangan Erika kecil. jarinya hendak menyentuh bibir vagina Erika yang masih sangat suci. Tiba-tiba seorang perempuan tua menerobos masuk membawa belanjaan.
“Ehh-um Ehemmmmmm” Mang Dodi salah tingkah karena Mbak Ijah muncul tiba-tiba.
“Dodi mengapa non Erika menangis ?? kamu apakan hah !!” Mbok Ijah menegur Dodi , matanya menatap curiga.
“MBOKKKKKK… Bek matiiiiii…..” Erika berlari kearah Mbok Ijah.
“Ohhhh, bebek.. mana sini , biar simbok liat…” Mbok Ijah meniup bebek karet yang menciut, Erika tersenyum senang.
“Mang.. Mang Dod, mang Dod !! MANGGG !!!” Erika berteriak keras.
“Uhhh.. e- ehh iya non kenapa ?? ada apa”

Kenangan masa lalu Mang Dodi buyar seketika, ia mengejar ke arah kolam renang, agak keheranan mang Dodi melihat Erika mematung berdiri pucat pasi, mang Dodi berlari menghampiri.

Mang Dodi “kenapa non ?? kenapa…”

“i-i-itu mang .. itu…”
“yiahh si non, cuma beginian, mang Dod kira ada apaan…” Mang Dodi mencomot ulat bulu di bahu Erika.
“Uhhh…. “ Erika bernafas lega.
“Nihh uletnya !!” Mang Dodi pura-pura melempar ulat bulu ke arah Erika
“Awwww… e-ehh mang bawa kesana ah!! Yee mang Dod !! awas ya!!” Erika merengut, mang Dodi tertawa.
“mang beliin air kelapa dong…” Erika mengeluarkan uang dari dompetnya.
“iya…, tapi traktir ya…” goda Mang Dodi cengengesan.
“Iya.. pokoknya beres…” Erika tersenyum.
“Asikkkkkk….. makasih non…, Non Erika emang paling baek dah” Mang Dodi memuji.
“udah , nggak usah nge-gombal, sebel…GPL ya” Erika tersenyum manis.
“beres Nonnnn…” Mang Dodi menjawab dan segera berlari.

Di pinggir kolam renang, dua kursi mengapit sebuah meja bunda dengan sebuah payung yang menaungi. Sementara di tempat yang teduh berjajar kursi santai panjang. Di situlah Erika duduk bersantai melepas kepenatan di atas kursi santai panjang. Matanya yang sipit terpejam, tangan kirinya menarik rok seragam abu-abunya ke atas, tangan kanan menyusul masuk ke dalam kain segitiga kecil berwarna putih bersih.

“ohhh mang Dodddd….”

Bibirnya mendesis saat angan membawa Erika menuju sebuah tempat membayangkan nikmatnya kecupan mang Dodi. Dalam khayalnya, Mang Dodi sangat lugu sedangkan Erika sendiri sangatlah liar hingga mang Dodi mengerang meminta ampun menghadapi keliaran Erika. Darah muda Erika mendidih seliar angannya.

“Emmm…..” tubuh Erika mengerjat menahan nikmat.
“Ahh !!”

Rasa Nikmat disusul dengan terkejut. Mata sipitnya bertatapan dengan mata mang Dodi yang berdiri tercenggang, Erika menunduk dengan wajah merah padam, malu bukan main, untuk yang pertama kali mang Dodi memergokinya sedang bermasturbasi. Wajah mang Dodi juga sama, merah padam karena nafsu yang memuncak. Angannya kembali ke masa lalu saat ia melihat Erika kecil telanjang bulat dan berlari ke pangkuannya. Mang Dodi tidak tuli, jelas-jelas ia mendengar Erika mendesis memanggil namanya, tidak perlu diragukan lagi, laki-laki dalam khayal Erika adalah dirinya. Setelah menaruh air kelapa di atas meja mang Dodi berlutut di samping kursi malas.

“Non Erika….” dengan memberanikan diri mang Dodi mengelus betis gadis itu. Karena tidak mendapat penolakan dari Erika , mang Dodi semakin berani, tangannya mengelus ke atas mengusap paha putih mulus. Reflek Erika mengapitkan kedua pahanya saat tangan mang Dodi mengusap paha bagian dalam.
“mang Dod…” Erika merintih dalam gejolak darah mudanya.

Matanya menatap sayu pada mang Dodi yang merenggangkan paha mulusnya, nafasnya tak beraturan dan berat. Tubuhnya yang masih awam menggelinjang dan menghangat. Tubuh Erika rebah di atas kursi malas dengan dua kaki yang mulus mengangkang lebar.

“ohhhhhh.. mang Dod…hhsssshh” sekali lagi Erika merintih saat mang Dodi menjatuhkan wajah pada kain segi tiga putih di selangkangannya.

Tubuh Erika gemetaran seperti sedang meenjalani terapi listrik. Detak jantungnya berdegupan keras memompa darah untuk mengalir lebih kencang melepaskan nikmat dan nafsu yang sempat tertahan. Tangan Erika membelai kepala mang Dodi. Ia menggigit bibir menahan desah yang hampir keluar saat lidah mang Dodi menyelinap melalui pinggiran celana dalamnya. Aktif, lidah mang Dodi menggeliat-geliat.

“Achhh…!” Erika mendorong kepala mang Dodi yang lidahnya menoel bibir vaginanya.
“E-Ehhh mang Awww…” Erika memekik kaget saat mang Dodi menjabret celana dalamnya.
“Hussshhh jangan keras-keras non…, nanti kedengeran loh…” Mang Dodi tersenyum mesum.
“ih Mang Dodi, maen buka aja…seenaknya” Erika cemberut, ia bangkit sambil menarik rok seragamnya ke bawah.
“supaya lebih asik non.., percaya deh sama mang Dodi..”

Mang Dodi menjatuhkan Erika kembali ke atas kursi, tangannya menarik rok seragam Erika dengan paksa ke atas. Mulutnya mengejar belahan bibir vagina Erika , gadis itu panik menggeser-geserkan pinggulnya menghindari mulut mang Dodi.

“ahhhhhhhh……m-mang Doddd…. Dhiiiii…ihhhh”

Tubuh Erika lemas di atas kursi. Kecupan dan hisapan rakus mang Dodi membuat gairah darah muda Erika kembali bergejolak, tubuh Erika menggelepar dan melenting menikmati keagresifan mulut mang Dodi yang mencecar vaginanya.

“Aaaaa.. ahhhhhh…..” Erika mendesah

Cairan orgasmenya tumpah kedalam mulut mang Dodi yang rakus menghisap-hisap vaginanya. Erika merintih tak berdaya, selama ini dalam khayal memang dirinyalah yang liar dan mang Dodi yang lugu dan lemah namun pada kenyataanya justru sebaliknya. Dengan Mudah mang Dodi memeras cairan vagina Erika bersama dengan luapan kenikmatan. Erika tak melawan saat mang Dodi meloloskan seragam abu-abu dari pinggangnya. Hanya bra dan pakaian seragam yang melindungi kemulusan tubuh Erika dari mata mang Dodi.

“Non Erika cantik sekali..”

Mang Dodi membopong tubuh Erika, dengan santai ia membawa Erika masuk ke dalam rumah, lalu menaiki anak tangga dan membawa nona majikannya masuk ke dalam kamar. Semenjak kematian Mbok Ijah setahun yang lalu, suasana rumah menjadi sepi. Erika salah tingkah saat mang Dodi mendudukkannya di pinggiran ranjang sedangkan mang Dodi duduk di sampingnya. Bibir tebal mang Dodi mengejar Bibir Erika, dengan mudah mang Dodi merampas Ciuman pertama Erika.

“Emhh…” Erika menarik bibirnya, ia menatap sopirnya itu dengan mata sayunya saat tangan kekar mang Dodi melucuti kancing baju seragamnya setelah itu menarik kedua cup branya ke bawah

Sepasang buah dada indah tertopang oleh cup bra berwarna krem. Mata mang Dodi berbinar menatap nanar keindahan sepasang payudara Erika, ia telah menjadi saksi tumbuhnya sepasang payudara indah di dada Erika. Dada yang semula rata kemudian mulai berkembang dan terus berkembang dengan indahnya dihiasi sepasang puting merah muda yang runcing. Setelah melepaskan baju dan celana panjang dan celana dalamnya yang dekil, Mang Dodi berlutut di hadapan Erika, ia mengusap-ngusap paha mulus Erika yang mengangkang pasrah. Bibir mang Dodi melumat dan mengulum bibir Erika, tangan kekarnya mengerayang menjelajahi lekuk liku tubuh Erika yang menggeliut-geliut tak bisa diam geli oleh rasa nikmat. Cumbuan mang Dodi merambat ke leher, pundak bahu dan mengecup ke arah buntalan buah dada sebelah kiri.

“mang….ennnnnnnnhhh…mang Doddddddd” Erika merengek manja.

Mulut mang Dodi mengunyah puncak dada. Ke mana Erika berusaha menarik dadanya ke situ pula mulut mang Dodi mengejar. Tak ingin ia melepaskan puncak buah dada Erika dalam mulut, bahkan saat punggung Erika jatuh ke belakang, mulut mang Dodi segera mengejar buah dada yang hendak melarikan diri dari mulutnya. Sambil terus menggeluti buah dada Erika mang Dodi menggusur tubuh mulus Erika yang menggeliat-geliat kegelian ke tengah ranjang.

“Aaaa. Aah !! hsssh nnnnnhhh” Suara desah tertahan dan rintih kecil mewarnai cumbuan-cumbuan mang Dodi yang semakin panas

Butir-butir keringat meleleh memandikan dua insan berbeda ras yang tengah asik menjalin hubungan terlarang. Menggelinjang tubuh Erika dibawah tindihan tubuh kekar mang Dodi. Erika yang berkulit putih mulus menggeliat resah merintih dan mendesah dibawah tindihan tubuh kekar mang Dodi yang meneduhinya.

“mmmm, hssh mang Dod.. ahhh…”

Erika gelisah saat merasakan tekanan kepala kemaluan mang Dodi pada belahan vaginanya. Mang Dodi menepiskan tangan Erika yang berusaha mendorong dirinya, entah kenapa ada rasa takut yang mencekam saat Erika melihat mata mang Dodi yang liar.

“Ahhh..!!” desah kecil Erika mengiringi tenggelamnya kepala penis mang Dodi.

Bibir vagina Erika yang mungil melingkari leher penis mang Dodi. Dari usia tentu saja usia Erika jauh lebih muda, dari warna kulit tentu saja kulit mang Dodi lebih gelap dari kulit Erika yang putih mulus, dari wajah sudah tentu wajah beringas mang Dodi menang atas cantiknya wajah Erika. Sekali lagi mang Dodi menekankan penisnya dengan kuat dan Erika mengerang. Entah sanggup atau tidak vagina Erika menampung batang di selangkangan Mang Dodi. Satu tusukan kuat menyusul dan Erika mengaduh kesakitan, bibir vaginanya yang mungil sobek dan selaput daranya robek ditembus batang penis mang Dodi.

“Aduh mang Dod !! Aduh!!sakit ! sakit mang Dod !! sakit !!” tangan Erika menggapai-gapai menahan pinggul dan dada mang Dodi.
“ENNNNNNNNNGGGHHHHHH..!!!!” suara erangan Erika terdengar keras saat mang Dodi memaksakan seluruh batangnya masuk ke dalam vaginanya

Selangkangan mang Dodi dan Erika bersatu, bulu jembut mang Dodi bergesekan dengan bulu jembut Erika. Nafas Erika terdengar keras, matanya terpejam menahan sakit yang menyengat. Batang mang Dodi menyesaki liang vaginanya yang sempit peret karena baru kehilangan keperawanannya. Selama ini belum pernah ada benda apapun yang melewati liang senggamanya.

“ Non Erika, memeknya enak amat, sebenarnya sudah lama mang Dodi pengen nyolok memek Non Erika, siapa sangka hari ini Mang Dodi bisa melakukannya, percayalah sama mang Dodi Non, sebentar lagi tubuh Non bakal tersentak sentak keenakan he he he he” Mang Dodi menceracau menumpahkan isi hatinya.
“Hsssshhh ahh !! aduh mang.. hsssshhhh!!” Erika mendesis kesakitan, batang mang Dodi mulai menggenjot.
“Auw-hhh..!!”

Berkali-kali mata sipit Erika membeliak saat mang Dodi membenamkan batangnya dalam-dalam. Erika merinding mendengarkan geraman mang Dodi, otot perutnya serasa kram saat batang penis Mang Dodi menusuk dalam. Kecupan dan lumatan gemas mang Dodi pada bibir Erika yang merekah membuatnya semakin kewalahan.

“Ahhhhh…..”

Mata Erika Nanar, ada rasa nikmat luar biasa menyela rasa sakit yang mengigit. Untuk yang pertama kali ia merasakan denyut-denyut orgasme akibat sebatang penis yang menumbuki vaginanya, rasanya seperti jiwa terlepas dari raga, melayang ke langit indah berhiaskan tangga pelangi.

“mang Dodddddd….ahhh enak mangggg” erangnya

Erika mulai meladeni kecupan dan cumbuan mang Dodi. Bibirnya menyambut bibir mang Dodi, kedua tangannya memeluk tubuh kekar yang sedang giat bekerja menumbukkan batang penis ke dalam vaginanya. Mang Dodi mencabut batangnya hingga terlepas dari vagina kemudian kembali mencoblos liang vagina Erika. Kemudian ditusuk-tusukannya penisnya dengan gencar pada liang yang becek itu dan dicabut lagi.

“ahhh, manggg.. jangan digituin… mang dod..” Erika merengek manja.
“abis harus digimanain dong ?” Mang Dodi bertanya

Wajah Erika merona karena terangsang berat sehingga menambah cantik wajahnya.

“Ayo , Erika bilang sama mang Dod, harus digimanain.” Mang Dodi sengaja menggoda nona majikannya.
“emmm.. digituin mang…” Erika tersenyum malu.
“digituin gimana yach ? mang Dodi nggak tau tuch “ Mang Dodi tersenyum lebar.
“Ahhnnhh mang Dod jahat !!” Erika mencubit dada mang Dodi.
“ADOWHH…!!” Mang Dodi mengaduh kesakitan.
“Hiaaaahhh…!!” Erika mengerahkan seluruh tenaga untuk mendorong mang Dodi.

“Eiiiiitttttt…”

Mang Dodi menangkap tubuh Erika. Dua insan berbeda ras itu bergulingan dan kembali bercumbu mesra layaknya sepasang pengantin baru. Mang Dodi duduk di pinggiran ranjang, Erika berdiri memperhatikan batang perkasa di selangkangan sopir setianya. Mang Dodi menarik Erika untuk berlutut di hadapan batang penisnya.

“Nah sekarang Erika jilat kontol mamang ya” Mang Dodi mengarahkan Erika.
“jijik mang.. ihhh…” Erika masih jijik dengan batang mang Dodi.
“Loh kenapa harus jijik, coba dulu.. ayo…” Mang Dodi membujui Erika.
“iii – ihhh ngak mau ah , bau” Erika menolak sambil menutup hidung dengan tangan.
“Ayo .. cobain… dulu…”

Tangan kiri mang Dodi menahan belakang kepala Erika. Dengan rayu dan sedikit paksaan akhirnya mang Dodi berhasil menjejalkan kepala penisnya ke dalam mulut Erika. Sang sopir merem melek keenakan.

“Ayo dihisap non.. “ perintah Mang Dodi sambil membelai rambut Erika.
“Emmm. Mmmhh..” Erika tak habis pikir, mendadak ia menyukai bau penis mang Dodi, senang menghisap dan juga senang menjilat-jilat batang penis yang besar panjang.

Ada sesuatu di dalam dirinya yang menuntut pelampiasan dari kesepian dan kejenuhannya selama ini. Dari seks pertama dengan sopirnya ini ia merasa mendapat pelampiaskan atas seluruh rasa yang menggebu dalam dada yang membuatnya ingin merasakan lebih dan lebih lagi. Sesekali Erika mengangkat wajah cantiknya menatap mang Dodi yang tersenyum kemudian ia kembali menunduk untuk bekerja mengoral penis itu. Dengan lembut lidah Erika mengulas-ngulas kepala penis mang Dodi sebelum akhirnya mang Dodi membimbingnya untuk menduduki batang penisnya dengan posisi tubuh Erika memunggunginya.

“jangan takut Non.., dudukin aja.., ntar juga masuk…” Mang Dodi menarik pinggul Erika untuk turun.
“sebentar mang, Erika takut…”

Setengah mati Erika mengumpulkan keberanian.

“rileks aja, anggap aja Non Erika lagi duduk di pangkuan mang Dod, dulu kan waktu masih kecil non Erika sering duduk di pangkuan mang Dodi”

Mang Dodi mengecup punggung Erika perlahan. Dengan hati ragu Erika menurunkan vaginanya. Mang Dodi membimbing Erika untuk belajar memasukkan penis ke dalam liang vaginanya.

“ih..”

Erika mengangkat pinggulnya kembali saat ujung penis mulai tenggelam ke dalam belahan vagina. Geli rasanya saat kepala penis menjilat belahan vagina yang berlendir. Sekali lagi tangan Erika mengarahkan kepala penis mang Dodi pada belahan vaginanya, kali ini ia menahan rasa geli yang menggelitik saat kepala penis membelah belahan vaginanya. Gemetar seluruh tubuh Erika menahan sensasi nikmat saat penis mang Dodi tenggelam semakin dalam.

“Ohh mang Dod…!! Mang Dod..”

Wajah Erika terangkat ke atas menahan nikmat. Vaginanya berkedutan dan meremas batang penis mang Dodi, dengan gerakan indah luar biasa Erika menggeliat, tubuhnya mulai bekerja mengikuti panduan dari mang Dodi yang terus mengajari sambil memainkan buah dada Erika. Belum begitu lama Erika menaik turunkan pinggul, ia merintih kecil, Vaginanya kembali berdenyut-denyut , rasa nikmat dimulai dari daerah panggul kemudian menyebar ke seluruh tubuh moleknya yang berpeluh. Mang Dodi memeluk erat-erat tubuh Erika yang tengah orgasme. Sebuah gigitan gemas bersarang di pundak Erika meninggalkan bekas gigitan merah. Tanpa melepaskan pelukan dari tubuh Erika, mang Dodi beringsut ke tengah ranjang.

“Ohhh !! ennnnhh aaaa.. Ahhhhh…”

Tubuh Erika melambung turun naik di atas tubuh mang Dodi, sungguh indah buah dadanya terpantul di dada mengikuti tubuhnya yang melambung-lambung. Suara derit ranjang mengiringi suara nafas berat, desah dan rintihan Erika dalam kamar, suara geram gemas mang Dodi sesekali terdengar di sela-sela kesibukan meluncurkan batang penisnya ke atas pada sebuah lubang mungil yang menjadi target bulan-bulatan penis besarnya. Wajah Erika seperti tengah menahan derita, namun sebenarnya bukan derita yang sedang dirasakan olehnya, ia tengah menahan rasa nikmat akibat sodokan-sodokan batang penis mang Dodi yang menghujam keras hingga terasa ke ulu hati. Bercak – bercak darah perawan menodai seprai putih. Berkali-kali Batang penis besar milik seorang sopir bernama Dodi menuai kemenangan atas vagina nona majikannya yang keturunan Chinese bernama Erika. Sebelum akhirnya penis besar itu mengisi liang vagina Erika dengan sperma. Hanya suara nafas Erika dan Mang Dodi yang terdengar memburu di dalam kamar. Dengan sebuah handuk mang Dodi mengeringkan tubuh Erika yang berpeluh. Hampir tiga jam lamanya mang Dodi menikmati sempitnya vagina dan kemulusan tubuh Erika. Setengah jam kemudian mang Dodi keluar dari dalam kamar meninggalkan Erika yang termenung kebingungan. Baju piyama berwarna pink menyembunyikan tubuhnya dari ketelanjangan. Papa dan Mama Erika baru pulang jam 6 sore tanpa merasa curiga sedikitpun apa yang baru saja terjadi.
Beberapa hari kemudian, malam hari.

Pintu kamar Erika dibuka oleh seseorang yang hanya mengenakan sarung dan kaos oblong, orang itu tidak lain adalah Mang Dodi yang mengendap-endap masuk ke dalam kamar nona majikannya. Dengan wajah mesum ia mengunci pintu, di atas ranjang Erika menoleh kepadanya dengan wajah yang bingung campur malu. Mang Dodi menggusur selimut yang membungkus tubuh Erika, setelah melepaskan sarung, kaos oblong dan celana dalam dekil, ia naik keatas ranjang meneduhi tubuh Erika yang masih terbalut piyama berwarna pink.

“Mang Dod.. emmm…” Erika mendesah menahan beban tubuh mang Dodi yang menindihnya,

Bibirnya menyambut bibir mang Dodi , mesra keduanya berciuman bagaikan sepasang pengantin baru yang berbeda usia dan ras dimana seorang dari ras mayoritas memangsa dan menikmati cantik dan mulusnya seorang gadis ras minoritas. Satu demi satu kancing baju piyama Erika terlepas, mata mang Dodi melotot melihat buah dada yang membuntal, padat dan kenyal terasa saat mang Dodi meremas buah dada sebelah kiri.

“Emmmhh mang Dod…”

Erika menggeliat – geliat resah, sementara mulut mang Dodi semakin rakus dan kasar menghisapi buah dadanya. Sesekali Erika merintih merasakan gigitan-gigitan gemas mang Dodi pada putting susunya.

“Ah..mmmmhhhh…”

Erika menggeser-geserkan tubuhnya, kemanapun tubuhnya bergeser kesitu pula kepala mang Dodi mengejar buah dadanya. Sepasang buah dada Erika yang ranum menjadi bulan-bulanan mang Dodi , begitu ganas mang Dodi menciumi buntalan buah dada dan menghisap kuat puncak payudara Erika, setelah puas menggeluti sepasang buah dada yang membuntal, mulut mang Dodi melumat bibir Erika. Setelah itu cumbuan mang Dodi merayap turun.pada leher, melewati belahan payudara, bermain pada perut dan pinggul dan terus turun mengejar milik Erika yang paling sensitif.

“Ohh Non Erika, indah sekali memek kamu Non…”

Mata Mang Dodi menatap tajam pada belahan bibir vagina Erika, bulu-bulu lembut menghiasi vagina Erika menambah indah pemandangan di daerah kewanitaannya. Mang Dodi mengendus-ngendus aroma vagina Erika.

“Unnhhh .. ,aaa.. mang Dodddd.. mang Dodddd…” Erika merengek saat hembusan-hembusan nafas hangat yang memburu menerpa vaginanya

Erika mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar seolah Erika ingin memperlihatkan seluruh keindahan yang dimilikinya kepada mang Dodi. Tubuh moleknya melenting menggeliat dan menggelinjang dengan indah saat vaginanya menjadi santapan mang Dodi yang rakus.

“Ussshhhh.. hssssshhhhhhhh… ahhhhhhh” tiba-tiba Erika mendesis dan mendesah panjang, perutnya mengejang dan cairan vaginanya meluap bersama kedut-kedut orgasme

Begitu indah tubuh Erika terkulai dibawah sorotan lampu kamar, butiran keringat meleleh membasahi tubuh mulusnya. Suara desah tertahan sesekali terdengar di antara suara seruputan seorang laki-laki yang usianya berbeda jauh dengannya.

“Mang Dod ?? “

Erika tak mengerti ketika mang Dodi membalikkan tubuh mulusnya yang terkulai lemas dan mengikat kedua tangannya dengan menggunakan celana piyamanya. Setelah itu mulut Erika disumpal dengan menggunakan celana dalam dekil milik mang Dodi.

“Emmm!!” Erika berontak saat mang Dodi menyelipkan penis pada belahan pantatnya, kedua tangan mang Dodi menekan pundak Erika ia menunduk dan berbisik di telinga gadis itu.
“jangan berisik non, nanti kita ketahuan”

Bisikan mang Dodi ternyata sangat efektif.

“hmmmm hmmmmmm”

Erika berusaha menggelengkan kepala menolak keinginan mang Dodi. Nafas Erika seperti orang yang sedang sekarat, matanya yang sipit membeliak, liang anusnya merekah diiringi rasa pedih dan perih yang tak tertahankan saat ujung kepala penis mang Dodi membongkar kerutan anusnya.

“Uhhh Erika…peret banget bool mu Non…” Mang Dodi menceracau

Otot anus Erika mengigit seputar ujung penisnya yang terbenam semakin dalam. Dengan sekali sentakan kuat mang Dodi membenamkan kepala penisnya hingga otot Erika melingkari leher penis mang Dodi. Kesenangan dan kenikmatan bagi mang Dodi harus dibayar mahal dengan kesakitan luar biasa bagi Erika.

“Emmmmmm !!! mmmmmhhhh”

Tubuh molek Erika mengejang kesakitan saat batang penis mang Dodi memaksa masuk inchi demi inchi. Pandangan Erika mendadak gelap seakan hendak jatuh pingsan namun rasa sakit tetap membuat kesadarannya terjaga dalam derita.

“Ehem, mang Dod sayaaaangg sama Erika.. , sudah jangan nangisss… Sudah masuk semua…koq…”

Mang Dodi tersenyum merasakan empuknya buah pantat Erika bergesekan dengan bagian bawah perutnya. Batangnya yang panjang dan besar tertanam dalam anus Erika. Mang Dodi menarik celana dalam dekilnya, melepaskan mulut Erika yang tersumpal.

“urhh.. s-sakit mang.. s sakit sekali .. aduhhh…” Erika mengerang saat batang mang Dodi mulai bergerak seperti sebuah piston

Bisik rayuan-rayuan mang Dodi ternyata tidak sanggup untuk membayar rasa sakit yang dirasakan oleh Erika yang merasa “dipermalukan” dan “direndahkan” serendah-rendahnya oleh mang Dodi. Berbeda dengan apa yang sedang dirasakan oleh Erika, Mang Dodi merasa kesuperioran atas diri Erika. Ego mang Dodi sebagai bawahan/ sopirnya menimbulkan rasa bangga memangsa Erika sebagai nona majikan dan berdarah Chinese. Dengan teratur batang penis mang Dodi terus bergerak memompa Erika hinga puas. “Plooo—ppp” Mang Dodi mencabut penisnya, ia membebaskan mulut Erika dari sumpalan celana dalam dekil milik seorang sopir kemudian menarik pinggul Erika agar gadis itu menungging dengan sempurna untuk permainan selanjutnya. Ujung penis mang Dodi mencari – cari belahan vagina Erika. Setelah dirasa pas, perlahan mang Dodi menjejalkan kepala penisnya.

“Mmmmhhhh..” Erika merinding kegelian, rasa sakit pada anus dibayar oleh sedikit rasa nikmat saat ujung penis mang Dodi menembus dan mengocok-ngocok liang vaginanya.

Mang Dodi terlihat lihat mencecar liang vagina Erika, serong kiri, serong kanan, menusuk dalam, dan mengocek. Dengan bimbingan dari mang Dodi, Erika mulai belajar, saat mang Dodi menusukkan batang penisnya, ia mendesakkan pinggulnya menyambut tusukan penis mang Dodi. Untuk beberapa kali tusukan keras Erika masih dapat bertahan, namun untuk tusukan-tusukan berikutnya tubuh Erika mulai menggelinjang. Rasa nikmat berkedutan membuat kepalanya terasa ringan namun selain itu Erika merasa malu mendengar suara yang berasal dari vaginanya. Risih saat payudaranya yang tergantung terayun – ayun dan risih saat buah pantatnya beradu dengan bagian bawah perut mang Dodi.

“mmmmhh emmmmh emmmhh…” Erika menenggelamkan wajahnya pada bantal.

Mang Dodi tersenyum, sebagai seorang laki-laki sudah tentu mang Dodi takjub pada kecantikan Erika. Terbayang olehnya wajah cantik Erika kecil yang lugu dan polos, selama tujuh belas tahun mang Dodi menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri perkembangan Erika kecil menjadi seorang gadis cantik bertubuh aduhai.

“Mang Dod.. Mang Doddddd….” Erika merengek perlahan.
“Ya Non ??” Mang Dodi menyahut.
“Pelan-pelan mang…” Erika meminta mang Dodi memperlembut tusukannya.
“Segini Non ??” Mang Dodi bertanya.
“He-emm.., hssssshhhh.. ohhhh mang Dod… enakk”

Tanpa sadar Erika merintih keenakan saat penis mang Dodi menusuk vaginanya. Begitu dalam dan lembut membuat Erika meringis dalam getar-getar kenikmatan yang berkedutan saat cairan orgasmenya kembali tumpah.

“Unnnhhhhhh mang Dooood.. utsssss !!” Erika merengek manja saat mang Dodi membalikkan tubuhnya kemudian menarik kedua kakinya yang mulus indah ke udara.

Satu tusukan kuat membuat tubuh Erika mengerjat, selanjutnya tubuh Erika terguncang mengikuti helaan batang penis mang Dodi. Sedikit demi sedikit mang Dodi meningkatkan ritme tusukan penisnya, helaan – helaan nafas berat terdengar memenuhi kamar tidur Erika. Ringisan Erika mengeksploitasi sensualitas wajahnya yang jelita. Erika menatap mang Dodi yang sibuk menjejal-jejalkan batang penisnya, mata laki-laki itu menatap tajam pada buah dadanya yang terguncang dengan hebat. Reflek Erika menyilangkan kedua tangannya di dada untuk melindungi sepasang payudaranya yang terguncang. Mang Dodi terlihat kecewa, ia meletakkan kaki Erika di bahu dan kedua tangannya mencekal dan menarik kedua tangan Erika agar buah dadanya terekspos dengan sejelas-jelasnya dalam guncangan hebat yang membuat jantung mang Dodi berdegub dengan lebih kuat. Berkali-kali cairan orgasme Erika tumpah meluap sebelum akhirnya sperma mang Dodi muncrat mengisi vagina Erika. Tubuh Mang Dodi roboh menimpa tubuh molek Erika yang berpeluh. Batangnya mengerut terjepit dalam kepitan vagina Erika yang sempit.

“mmmmhhh mang Dod…” Erika memeluk tubuh mang Dodi, keduanya berciuman lama dan mesra.

Setelah cukup tenaga Mang Dodi pamit keluar dari kamarnya dan Erika pun tertidur kelelahan.

Bersambung ke.. Cerita Seks Pemerkosaan Erika Anak Majikan

demikianlah kisah ku Cerita Pemerkosaan Ngentot Erika Anak Bos untuk di ceritakan. lihat juga sebelumnya ada kisah seks bergambar menarik yang tak kalah serunya untuk dibaca Cerita Sex Ngentot Ibu Kost yang Cantik. Tamat

Kumpulan Cerita Seks, Cerita Dewasa, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Pemerkosaan, Cerita Bokep ABG, Cerita Panas Hot, Cerita Lesby, Cerita Gay, Cerita Selingkuh Terbaru. foto cewek bugil, abg bugil, ngentot memek janda, tante girang nakal, gadis perawan bispak